Hari ‘Palehtin’ (Valentine)

Oleh Syamsul Bahri

KEMARIN, saya ada masuk mengajar di kelas III Aliyah sebuah sekolah swasta di Ulee Kareng, Banda Aceh, ketika saya bertanya kepada siswa tentang hari Valentine, serentak mereka menjawab hari Valentine adalah hari kasih sayang. Saya pun terdiam, mereka kemudian saling berbisik, sebagian mereka tampak ragu-ragu. Tapi, sebagai seorang guru, wajib bagi saya untuk menjelaskan kepada mereka, apa arti hari Valentine sesungguhnya.

Memasuki bulan Februari, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tak luput dari fenomena valentine. Toko-toko swalayan di kota-kota besar menjual bunga berwarna merah, kartu ucapan selamat yang berlambangkan cinta, hotel dan restoran mewah menyediakan paket Valentine. Demikian pula media, seperti televisi, misalnya, turut memeriahkan hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari itu dengan tayangan-tayangan khas dan menarik.

Pesta hari kasih sayang itu dikemas dengan menampilkan artis/selebritis untuk memamerkan bahwa mereka memaknai hari kasih sayang ini dengan sepenuh hati sesama pasangannya, saling memberi bunga, berciuman, mengucapkan selamat hari Valentine, baik yang sudah nikah atau belum. Tayangan ini memikat muda-mudi generasi sekarang dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, tanpa menyadari apakah itu tradisi Islam atau bukan? Apakah itu termasuk perbuatan yang dibolehkan atau tidak?

 Sekilas sejarah
Sejumlah referensi telah menjelaskan kepada kita hari Valentine (Valentine Day), berasal dari kisah seorang anak manusia bernama Valentine. Valentine adalah seorang pemuka Katolik yang dianggap suci (Santo). Ia pernah menentang kebijakan rajanya, Claudius II (268 – 270 M) yang mempunyai kebijakan melarang para prajuritnya untuk menikah. Menurut Raja Claudius II ini, dengan tidak menikah akan membuat prajurit-prajuritnya tetap tangguh dan kuat, memiliki semangat perang yang tinggi, agresif dan berpotensi menang. Mereka dilarang memiliki perasaan cinta karena dikhawatirkan akan membuat mereka lemah tak berdaya, sehingga akan kalah saat berperang.

Santo Valentine menentang keras kebijakan ini. Menurutnya, mengungkung perasaan cinta anak manusia mustahil untuk dilakukan. Dia pun menyusup dan mempengaruhi muda-mudi, kemudian menikahkan mereka. Namun aksinya diketahui oleh Raja, dalam beberapa hari ia dipenjara. Dalam penjara ia berkenalan dengan seorang gadis, mereka saling jatuh cinta. Setelah itu ia pun dibunuh oleh Raja. Sempat ditulis sebuah surat cinta kepada gadis itu sebelum ia mati.

Setelah kematian Valentine, pada setiap tahun pengikutnya mengenang kematiannya. Mereka membuat semacam hari bercinta, hari berkasih sayang. Upacara ini terus dilakukan, pesta-pesta pun berbagai rupa, pasangan yang sudah cerai/putus bisa kembali lagi, mereka yang masih awam diajari dan menjadi paham makna hari Valentine, yang diekspresikan sebagai hari cinta itu.

Sampai pergantian Raja, Paus Galasius pada 496 Masehi meresmikan 14 Pebruari 496 sebagai hari Valentine. Maka hari Valentine ini dirayakan untuk memperingati hari kematian seorang anak manusia yang mabuk wanita, sehinga mengorbankan nyawanya demi cinta dan kasih sayang.

Versi kedua menyebutkan, bangsa Romawi kuno pada 14 Februari membuat upacara perayaan untuk memperingati Dewi Juno, dalam acara itu dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Nama gadis ditulis di kertas kemudian dimasukkan ke dalam botol. Setelah itu datang laki-laki mengambil kertas yang telah bertuliskan nama itu. Setiap laki-laki akan memperoleh gadis undian itu. Setelah terpilih sebagai pasangan mereka akan dinikahkan.

Kini hari Valentine ini menjadi trend, gaya hidup ala Barat. Mereka berpestapora pada hari itu, sikap hedonisme dan minum-minuman keras serta free sex mewabah seperti virus yang cepat sekali menyebar. Valentine telah menjadi bentuk pesta hura-hura dan simbol modernitas. Barat juga mengampanyekan melalui media-media kecanggihan teknologi kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

Mereka menciptakan pembaruan melalui slogan-slogan, film, karya sastra, drama cinta untuk mempengaruhi umat manusia, budaya dan agama. Mereka mendapat keuntungan yang banyak, industri-industri perfilman mereka sangat laku di pasaran, menciptakan kado-kado special hari Valentine. Banyak perusahaan mendapat laba atas hari Valentine itu. Valentine telah tersinkretisasi dalam peradaban Barat.

Hari ini ada jargon, kolot, kuno, primitif, tidak gaul, terhadap orang yang tidak melakukan dan mengucapkan selamat hari Valentine. Yang melakukannya pun merasa bangga, dikenal ikut modernisasi, tidak ketinggalan zaman. Padahal setelah kita kaji sejarahnya hari itu hanya untuk mengenang seorang yang bernasib sial dalam hidupnya.

Dengan demikian cukuplah bagi kita untuk membuang jauh-jauh perkataan hari Valentine adalah hari kasih sayang. Berdasarkan sejarah itu memberikan bukti kepada kita hari itu berupa hari celaka, hari bernasib buruk, hari pemujaan orang-orang bodoh. Maka dalam bahasa Aceh hari itu disebut hari Paleh. Hari palehtine, yakni pada hari itu banyak perbuatan-perbuatan paleh.

 Perspektif Islam
Ada tiga unsur yang didapatkan dari sejarah hari Valentine sampai sekarang, yakni permulaan itu sebagai hari mengenang Santo Valentine yang dikukuhkan oleh Paus Galasius dan ritual penyembahan Dewi Juno (Paganisme), ritual bangsa Eropa untuk mencari pasangan/jodoh dan terakhir dominasi budaya Barat untuk mendapatkan keuntungan dengan mengukuhkan peradaban mereka sampai hari ini.

Islam melarang keras mengikuti (peribadatan) nonmuslim atau mencampuradukkannya, sebagaimana firman Allah swt: “…Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. Al-Kafirun: 1-6). Kalau ada Muslim yang melanggar ayat Allah ini dengan mengadakan upacara hari Valentine itu ia telah Fasik. Karena Allah telah jelas-jelas melarangnya. Bahkan lebih dari pada Fasik, sebagaimana sabda  Rasulullah saw: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan termasuk golongan mereka” (HR. Imam Ahmad).

Siapa yang merayakan hari Valentine seperti wujud untuk menyatakan kasih sayang, juga pesta, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, ciuman antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya, hidup glamour, materialistis, dansa-dansa, mengumbar nafsu dan lain-lain sebagainya, maka ia telah termasuk ke dalam golongan itu. Na’udzubillah min dzalik.

Tidak dapat disangkal lagi hari Valentine (palehtin) menjadi satu pintu masuk untuk menjadi seperti mereka. Karena itu setiap orang yang sudah mengetahui latar belakang hari Valentine wajib memberitahu kepada orang yang belum tahu. Orang tua memberitahu kepada anaknya, guru kepada anak didiknya. Kepada guru, sisihkan waktu selama 10 menit, hari ini, untuk menjelaskan kepada siswa bahwa hari Valentine itu haram kita peringati. Wallahu’alam.

* Syamsul Bahri, Mahasiswa Pascasarjana, Konsentrasi Pendidikan Islam IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, dan saat ini mengajar di Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa. Email: alraji_07@yahoo.com

Kalau kalian Gimana ni,,,, ada rayain gakkkkk…. #ayoooooo
kalau aku sendiri sicchh gak ada, seharian hanya sibuk rapat dan dengan teman dekat, walaupun cewek teman dekatnya sich gak pake acara ngasih coklat, bla bla bla lahhh hehehe….
jadi kasih apa juga lu tir,,,??
cuman duduk-duduk sama keluarganya doank hehehehe

gak pakai pikiran negatif yaaaaa… cuman duduk-duduk doank n sambil ngobrol bareng keluarganya..
kalau kalian gimana niii, ayo berbagi cerita dunk hihihi

beeuhh ada kawan ane ni Galau aja nich bawaannya #kasian juga nich hahahaha tapi ane kasian liatnya, mau hibur tapi gak dapat, malah mikirin cewek, ane bilang, tamatin dulu kuliahnya, nah baru cari kerja setelah itu tinggal cari pasangan lamar terus bro hahahahaha… gampang kan asikkkkkk

intinya seperti yang di bilang pak Syamsul Bahri

Islam melarang keras mengikuti (peribadatan) nonmuslim atau mencampuradukkannya, sebagaimana firman Allah swt: “…Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. Al-Kafirun: 1-6). Kalau ada Muslim yang melanggar ayat Allah ini dengan mengadakan upacara hari Valentine itu ia telah Fasik. Karena Allah telah jelas-jelas melarangnya. Bahkan lebih dari pada Fasik, sebagaimana sabda  Rasulullah saw: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan termasuk golongan mereka” (HR. Imam Ahmad).

kembali ke Al-Quran dan Hadis ok para sahabatku dan para pembaca..

*Panetir Bungkes SE, Mahasiswa Program Pendidikan Akuntansi (PPAk) dan Pascasarjana di Akuntansi (MSi) Unsyiah.

 

 

 

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

panetir bungkes

General Info

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.