MENDULANG EMAS DI DATARAN TINGGI GAYO LUES

GAYO LUES dan SEJARAH BERULANG

Di sana tidak angker lagi…!!! Blangkejeren sudah hamper setara dengan daerah lain di tanah rencong. Dilalui mobil-mobil mewah, gadis-gadis cantik berjilbab, rumah-rumah permanen dan bangunan, fasilitas umum serta perkantoran. Lelaki dan wanita  blangkejeren pun mulai terbiasa dengan gaya hidup berkelas, glamour, mesti terkadang amat kontras.

 

IMG

Warga Desa Pining, Gayo Lues,

Memanfaatkan sungai untuk mandi dan bermain. Bahkan, di tempat itu pun mereka mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Foto0495

ini Foto saya ambil 10 November 2012 di atas bukit Godang, ini lah gambar Negeri Seribu Bukit…

kekayaan alamnya yang begitu luas.

Saat-saat Pahit Di Negeri “Seribu Bukit”

Dari sebuah perkampungan kecil, tapi gak kecil2 amaet sih hehehe di dilereng pergunungan Bukit Barisan, tersebutlah sebuah kabupaten bernama Gayo lues. Tak banyak orang mengira bahwa daerah dingin berpenghuni 72.147 jiwa ini, memiliki potensi sumber daya alam cukup kaya dan sumber daya manusia yang berkulitas. cuma sayangnya ni daerah masih perawan amet,,,,,, masih sedikit yang menjamahinya… sekarang aja mgkin sudah bayak yang berkunjung.

Karena kelebihannya itu, para pengamat memprediksi, kelak gayo lues akan menjadi potret masa depan daerah pertumbuhan di Aceh. Bagaimana kisah perjalanan kabupaten muda yang kini tengah merangkak menuju “Planet Baru” berlapis kekayaan itu.

Berawal dari sejarah panjang, unik dan melelahkan, Gayo lues tiba-tiba tampil mengagumkan  di kancang persaingan pembangunan yang serba kontradiktif, penuh intrik politik dan retorika klasik.  Kecamatan kecil dan terisolir selama puluhan tahun ini awalnya sangat tak bias diharapkan untuk tumbuh menjadi sebuah kabupaten, apalagi menjadi provinsi seperti keinginan bayak pihak.

Pesonanya, Gayo Lues telah melekat dengan  julukan potret sebuah kawasan hutan, gunung dan kawasan perbukitan yang tingal dan amat meyeramkan. Bertahun-tahun masyarakatnya sensara, terkurung ortodok, miskin bahkan “kampungan”. saya pernah berpikir dulu malah masyarakatnya tidak mengunakan pakayan, tapi itu hanya hayalan ku saja ni, itu ma duluuuu, sekarang kan dah beda Gayo Lues menuju kota Yang Modern.

Bayangkan dengan jarak tempuh lebih kurang delapan jam (sekitar 304 Km) dari pusat kota medan, Sumatra Utara, Gayo Lues harus dijamah penuh resiko dan melelahkan. Jalannya amat buruk, alamnya ganas dan menakutkan.

Malah daerah yang pernah porak-poranda dibantai gempa tektonik berkekuatan 6 skala righter lebih, ini pun tak luput dari imbas konflik bersenjata antara TNI/Porli dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tak ubahnya daerah lain di Aceh.

Elegy panjang warga Gayo Lues sepertinya sudah menjadi koadrat kabupaten baru ini terpuruk bertahun-tahun lamanya. Petani sempat mebiarkan begitu saja hamparan sawah dan kebun yang tercipta amat subur.

Pasalnya, petani Gayo Lues selalu kewalahan memasarkan hasil-hasil bumi mereka akibat sulitnya sarana transportasi (jalan, jembatan dan angkutan kota/luar kota) menuju perkotaan.

Buah panen petani Gayo Lues sering menumpuk begitu saja. Inilah persoalan klasik yang membelit warga desa dan petani Gayo Lues selam beberapa dasawarsa.

Ekonomi warga sempat ambruk. Kultur budaya, adat istiadat maupun tatanan kehidupan masyarakatnya pun tinggal atau “kuper” (kurang pergaulan), kecuali sebahagian kecil warga yang mampu dan menyekolahkan anaknya ke luar daerah Gayo Lues.

Masa-masa pahit ini berlangsung cukup lama, akibatnya orang Gayo Lues hidup dalam kesulitan yang panjang.

Keterpurukan ekonomi dan budaya itulah yang membuat daerah ini tertingal. Jauh dari perhatian elite politik Banda Aceh maupun Jakarta.

Belajar dari pengalaman pedih dan menyakitkan , akhirnya masyarakat Gayo Lues terdorong untuk melawan kekangan rasa ketidak adilan dan ketertindasan pembangunan yang begitu lama.

Pada tokoh adat, ulama, kaum elite Gayo Lues, kelompok pemuda, para cendikiawan dan seluruh lapisan masyarakat daerah it uterus berjuang untuk membebaskan tanah leluhur mereka dari situasi serba sulit tersebut.

Tapi pada suatu sisi, kondisi perjuangan memoderenisasikan masyarakat Gayo Lues sering berhadapan dengan realitas kehidupan masyarakatnya yang keburu mendapat legitimasi sulit menerima kemajuan.

Jika situasi ini terus bertahan dan menjadi referensi para orang tua di sana, maka bayak pihak memprediksikan Gayo Lues akan terus tertinggal meski sudah sudah menjadi kabupaten, benarkah angapan itu?

Ketika Kita melihat Gayo Lues, mungkin orang beranggapan masyarakatnya sangat kolot. nah sekarang masyarakatnya gak sekolot itu, lebih lanjutnya saya akan bahas di tulisan selanjutnya, maka tunggu tulisan berikutnya tentang Gayo Lues saudara-saudaraku, sahabat, teman kerabat, ibu, bapak sekalian…..:)🙂🙂

ini ceritanya baru sekilas masa lalu tentang Gayo Lues. berikutnya akan kita bahas lebih dalam lagi ………..🙂

jika ada Komentar dan saran maka silakan masuki komentar di bawah ini … !!!!

Penulis:

Alm M. Alikasim Kemaladerna (mantan Bupati Pertama GAYO LUES)

Panetir Bungkes SE (Keponakan Alm)

*****

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

panetir bungkes

General Info

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.