OPINI pengelolaan migas di Indonesia (Pertamina)

Dasar pemikiran pengelolaan migas di Indonesia sebenarnya sudah dirancang dengan ide Kontrak Production Sharing (Bagi Hasil). Pencetus ide Kontrak Bagi Hasil adalah Bung Karno, yang mendapatkan ide tersebut berdasarkan praktek yang berlaku di pengelolaan pertanian di Jawa. Kebanyakan petani (Marhaen) adalah bukan pemilik sawah. Petani mendapatkan penghasilannya dari bagi hasil (paron). Pengelolaan ada ditangan pemiliknya.

 

Pak Ibnu Sutowo dalam bukunya “Peranan Minyak dalam Ketahanan Negara” (1970)8 menyatakan yang dibagi adalah minyak (hasilnya) dan bukan uangnya. Pak Ibnu menyatakan, “Dan mengenai minyak ini, terserah pada kita sendiri, apakah kita mau barter, mau refming sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkannya, untuk kita”. Intinya adalah kita harus menjadi tuan di rumah kita sendiri. Itulah sebabnya dalam Kontrak Production Sharing manajemen ada di tangan pemerintah.

 

Perbedaan Kontrak Karya (konsesi) dan Kontrak Production Sharing (bagi hasil) adalah pada manajemennya. Pada Kontrak Karya, manajemen ada di tangan kontraktor, yang penting adalah dia membayar pajak. Sistem audit disini adalah post audit saja. Pada Kontrak Production Sharing (KPS), manajemen ada di tangan pemerintah. Setiap kali kontraktor mau mengembangkan lapangan dia harus menyerahkan POD (Plan of Development) atau perencanaan pengembangan, WP&B (Work Program and Budget) atau program kerja dan pendanaan serta AFE (Authorization fo Expenditure) atau otorisasi pengeluaran supaya pengeluaran bisa dikontrol. Sistem audit di sini adalah pre, current, dan post audit.

 

Tujuan jangka panjang KPS sebenarnya adalah mengusahakan minyak kita sedapat mungkin oleh kita sendiri. Dengan mengelola KPS bangsa Indonesia dapat belajar cepat tentang bagaimana mengelola perusahaan minyak serta belajar cepat untuk menguasai teknologi di bidang perminyakan. Pak Ibnu menyatakan “Tapi telah menjadi tugas kita dan telah kita sanggupi untuk mengusahakan minyak kita oleh kita sendiri. Dan ini telah memikulkan suatu kewajiban atas pundak kita semua, supaya setiap detik dan setiap ada kesempatan, kita berusaha mengejar know, how dan skill ini dalam tempo yang sependek mungkin”.

 

Tujuan Pak Ibnu Sutowo untuk menggunakan hasil minyak untuk meningkatkan kemampuan nasional menjadi tidak terkontrol karena Pertamina malah juga melakukan bisnis di luar bidang perminyakan, yang tidak dikelola dengan baik, bahkan dengan modal pinjaman jangka pendek serta bunga komersial sehingga mengakibatkan kesulitan keuangan. Hal tersebut mengakibatkan peraturan yang mewajibkan bahwa investasi Pertamina harus diusulkan kepada dan disetujui oleh Departemen Keuangan. Seperti diketahui, tugas Departemen Keuangan bukan hanya mengurusi Pertamina. Tugas utamanya adalah menyusun APBN dan memaksimalkan penerimaan Negara serta mengalokasikan pengeluaran Negara. Mereka berpendapat bahwa risiko bisnis perminyakan sebaiknya diserahkan ke perusahaan asing saja. Akibatnya, jatah untuk Pertamina adalah seperti tahun sebelumnya atau business as usual, sehingga produksi Pertamina pun berkisar sekitar 50 ribu barel per hari selama puluhan tahun. Itulah sebabnya kemudian Pertamina menawarkan lapangan-lapangannya untuk dikerjakan pihak lain awalnya dengan JOB (Joint Operating Body) lalu dengan TAC (Technical Assistance Contract) dan sekarang dengan

 

KSO (Kerja Sama Operasi). Birokrasi (aturan pemerintah) tersebut juga mengakibatkan budaya di Pertamina yang tidak seperti pada layaknya perusahaan yang dapat menentukan sendiri investasinya, meminjam uang serta menawarkan saham. Hal di atas adalah pemasalahan yang penulis kemukakan pada presentasi di depan wartawan dengan judul Isu Pokok, Kebijakan dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Migas yang diadakan di Wisma Bimasena, 8 Agustus 1997 oleh Yayasan IIEE (Institut Indonesia untuk Ekonomi Energi). Di samping itu penulis juga menyatakan:7

–   Kemampuan bangsa kita di bidang perminyakan tidak kalah dengan kemampuan bangsa lain. Lagipula, teknologi perminyakan bukan monopoli perusahaan multinasional. Hal-hal yang sifatnya spesifik biasanya justru di subkontrakkan ke perusahaan-perusahaan spesialis (yang bisa disewa siapapun.

–   Efisiensi Pertamina perlu ditingkatkan apabila ingin menyamai prestasi perusahaan multinasional dan hal tersebut dapat dilakukan dengan menyederhanakan birokrasi (aturan tata kelola) serta membuat regulasi yang mendukungnya, seperti yang dilakukan Malaysia pada Petronas, untuk meningkatkan efisiensi tersebut.

–   Pertamina dapat memanfaatkan tenaga profesional yang telah berpengalaman bekerja pada perusahaan multinasional. Hal ini dapat dilakukan dengan mengangkat mereka sebagai pegawai Pertamina atau Pertamina bekerja sama dengan swasta nasional bonafide yang merupakan himpunan dari tenaga profesional tersebut.

–   Ada baiknya Pertamina menugaskan pegawainya untuk secara bergantian intemship (magang) di kontraktor asing yang beroperasi di Indonesia (pengalaman tersebut akan sangat berguna). Pertamina perlu mengirimkan lebih banyak stafnya untuk sekolah di luar negeri dan meningkatkan kemampuan penelitian dan pengembangan (dengan perguruan tinggi) seperti yang dilakukan Petronas.

 

Malaysia memang belajar PSC (Production Sharing Contraci) dan Teknik Perminyakan dari Indonesia, lagu kebangsaannyapun mengambil dari lagu Indonesia, Mahatirpun sering disebut Sukarno kecil. Indonesia adalah penggagas Pancasila dan Production Sharing Contact, tetapi kita tidak dapat mengimplementasikan kedua gagasan tersebut dengan baik sehingga keadaan kita belum seperti yang kita harapkan.

 

Akibatnya, ada “joke” yang menjelaskan kenapa Malaysia lebih maju dari Indonesia (kenyataannya demikian) adalah karena orang Malaysia “melayu” (lari) sedangkan orang Indonesia “melaku” (berjalan) dan kalau pengusaha Malaysia ditanya bisnisnya maka dia menjawab: “it is running welV (berlari baik) dan pengusaha Indonesia: “berjalan baik”.

 

Penulis yakin bahwa alumni perguruan tinggi di Indonesia tidak kalah secara akademis dibandingkan alumni perguruan tinggi di Amerika Serikat atau di Eropa. Walaupun demikian diperlukan populasi yang cukup (sekitar 30 persen) yang memiliki budaya perusahaan multinasional atau mengenal budaya internasional di suatu perusahaan nasional. Mereka adalah yang pernah bekerja di perusahaan multinasional atau yang pernah yang sekolah di luar negeri. Petronas dan Medco memiliki populasi tersebut.

Penulis setuju bahwa tidak fair untuk membandingkan Petronas dengan Pertamina saat ini karena kondisi Petronas saat ini adalah kondisi yang diharapkan Pertamina pada waktu Production Sharing Contract digagas. Walaupun demikian perlu disadari bahwa lebih majunya Petronas dari Pertamina bukan hanya karena dia lebih berhasil melaksanakan Production Sharing Contract yang kita gagas. Perlu dicatat bahwa:

  1. Malaysia menggunakan hasil minyaknya untuk pendidikan dan mengembangkan kemampuan nasionalnya, sedangkan Indonesia menggunakannya untuk subsidi harga BBM, membayar hutang dan korupsi. Pada waktu penulis sekolah di Amerika di sekolah penulis terdapat sekitar 600 mahasiswa dari Taiwan, 400 mahasiswa Indonesia dan 300 mahasiswa Malaysia. Dari 400 mahasiswa Indonesia tersebut hanya belasan yang dikirim oleh pemerintah selebihnya adalah putra putri konglomerat, sedangkan 300 mahasiswa Malaysia tersebut hampir semua dibiayai oleh negara. Tentunya ada ribuan mahasiswa Malaysia yang waktu itu belajar di seluruh Amerika Serikat. Itulah sebabnya kenapa Malaysia bisa lebih maju dari kita dan Petronas lebih maju dari Pertamina. Lapangan terbang, daerah pusat pemerintahan, menara Kualalumpur dan gedung Petronas bukan main cantiknya.
  2. Terdapat kritik bahwa birokrat di Indonesia berkecenderungan tidak biasa bekerja-sama karena tidak dibangun atas kebutuhan pembangunan (seringkah kita dengar istilah egoisme sektoral, egoisme profesi, egoisme eselon, dan sebagainya).
  3. Pemerintah Malaysia pada saat ini hanya memberikan subsidi sekitar Rp 800.-/liter untuk harga minyak berapapun (harga BBM di Malaysia saat ini Rp. 7750,-/liter).3 Disamping itu, Malaysia merupakan net exporter minyak (produksi: 755 ribu bpd, konsumsi: 514 ribu bpd). 1 Petronas mengelola banyak lapangan migas di luar negeri. Pada tahun 2000, Petronas beroperasi di 24 negara.9
  4. Yang menyebabkan Malaysia lebih berhasil dari Indonesia adalah budaya birokrat baik di Pemerintahan maupun Perusahaan milik Negara lebih mendukung kemajuan dibandingkan Indonesia (apabila tidak berubah). Salah satu hal yang menyebabkan Pertamina kurang maju, dimasa lalu adalah karena bermental bouwher (juragan). Di masa lalu orang Pertamina kurang memiliki keinginan untuk melakukan sendiri. Kalau bisa semuanya dilakukan oleh pihak ketiga, baik di hulu maupun di hilir2 (Walaupun banyak orang Pertamina yang ingin mengerjakan sendiri, tetapi tidak dominan). Ada pimpinan Pertamina yang menyebut mental mandor.Ada juga yang menyebut mental feodal. Ciri mental juragan atau feodal yang lain adalah dia mudah tersinggung kalau dikritik.
  5. Budaya tidak suka dikritik ini juga dimiliki sebagian pimpinan Indonesia dimasa lalu. Kebudayaan kita adalah paternalistik dimana pemimpin merupakan panutan. Sebagai manusia, mahluk yang fana, bisa saja pemimpin berbuat salah dan itu bisa berakibat fatal karena jika dibiarkan dicontoh sebagian rakyatnya dan menyesengsarakan mayoritas rakyatnya yang lain. Sehingga kritik masyarakat dan kesediaan pemimpin untuk dikritik mutlak diperlukan, fitnah, silahkan. Meskipun mungkin Lee Kuan Yew bukanlah seseorang yang suka dikritik tetapi sebagai negarawan dia tidak boleh mengharamkan kritik, sehingga dia berusaha keras untuk tidak berbuat kesalahan dan hasilnya adalah Singapura yang maju.

Kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) tidak mendorong kompetisi, tetapi mendorong ketidakefisienan karena yang terjadi adalah perlombaan memberikan upeti dan bukan perlombaan meningkatkan kualitas dan efisiensi. Hal tersebut akan menjadikan masyarakat menjadi malas dan tidak kreatif, sehingga mengakibatkan bangsa menjadi tidak kompetitif. Mahatma Gandhi bahkan menyatakan: Throughout my life I have gained more from my critic friends than from my admirers, especially when the criticism was made in courteous andfriendly language.5 Selama hidup, saya telah mendapat lebih banyak dari teman-teman pengkritik daripada para pengagumku, terutama jika kritiknya dibuat dalam bahasa yang sopan dan bersahabat

 

Sesungguhnya apabila ingin menjadi perusahaan multinasional maka yang perlu dilakukan Pertamina adalah mengikuti langkah-langkah yang dilakukan perusahaan multinasional. Kita tidak harus mencontoh Petronas (karena UU Migas menyebabkan kita berbeda dengan Petronas), tetapi kita bisa mencontoh CNOOC & Petrochina (Cina), Petrobras (Brasil), Statoil (Norwegia) bahkan Medco.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

panetir bungkes

General Info

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.